Kamis, 03 Januari 2013

SUFI SEKILAS INFO

Kaum Sufi awal mendedikasikan sepenuhnya kehidupan untuk menghamba kepada Allah, melalui berbagai latihan berat sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW. Mereka menghiasi diri dengan Sholat qiyaam lail (tentu setelah sempurna solat wajibnya), puasa sunnah (menahun, seperti juga dilakukan oleh Imam Nawawi), zuhud dari kesenangan dunia (lapar, miskin, namun tidak miskin jiwa/akal maupun ilmu). Tokoh-tokohnya menjadi cahaya bagi umat. Mereka dinamakan sufi karena kekhasan cara hidup, perilaku dan ilmu. Mereka bukan orang bodoh yang taqlid.

Ilmu tasawwuf berkembang sebagaimana ilmu lain, seperti fiqh, hadits, bahasa, logika dll yang memunculkan banyak tokoh di setiap cabang ilmu. Dan semua mengaku bersandar pada Al-Quran, Sunnah, dan ilmu lain sesuai pemahaman masing-masing tokoh dan golongan. Antar golongan, meskipun berbeda istinbat, tak jarang mereka saling menerima perbedaan. Akan tetapi ada pula yang terlalu jauh dari tuntunan.

Menilai satu cabang ilmu sebagai suatu kesesatan umum, adalah kesesatan itu sendiri, tanpa melihat, membahas, mengkoreksi, meluruskan, dan objek yang dibicarakan. Adalah bodoh, jika karena ulah beberapa orang yang MEMALSUKAN HADITS, kemudian menggeneralisir bahwa ILMU HADITS ITU SESAT. Begitu juga Fiqh, Logika dll.

Menganggap Ilmu hikmah (yang diperjual-belikan) di zaman ini sebagai ilmu turunan dari tasawwuf agaknya kurang benar. Pertama, ilmu tasawwuf bukanlah ilmu keduniaan, ilmu untuk mengejar kesaktian-kedigdayaan, ilmu mengejar pangkat-jabatan, ilmu agar kebal tak terkalahkan...

Akan tetapi, Tasawwuf murni adalah ilmu tentang KEPASRAHAN TOTAL kepada sang pencipta atas apa yang telah dipilihkan Dia untuk dirinya. Tasawwuf mengabaikan segala bentuk KEDIRIAN, baik berupa harta, pangkat, kehormatan di mata masyarakat.

Ciri utama dan hakiki dari tasawwuf, adalah TAQWA. Perjalanan mereka dimulai dari Ilmu Syari'at yang benar, kemudian menginisiasi diri melalui TAUBAT NASUHA, menapaki maqom SABAR, kemudian RELA ATAS PUTUSAN ALLAH, dilanjutkan dengan WARA', menghiasi diri dengan ZUHUD, sehingga mendapatkan pengetahuan spiritual mengenai hakikat hidup dan kehidupan, seraya MENGENAL ALLAH DENGAN SEBENARNYA MA'RIFAH. KHOUF (Perasaan takut yang mendalam kepada Allah) dan RAJA' (Pengharapan yang mendalam kepada Allah) menjadi teman hidupnya.

Adapun bentuk dzikir yang dawaam, puasa dan ibadah lain, merupakan metode umum kaum ini. Dzikir menghasilkan PENYADARAN nafsu tentang keberadaan Allah, dan kaifiyatnya telah mengalami banyak versi (Sebagian besar tidak bertentangan dengan ushul syar'i) -seperti halnya kaifiyat ibadah yang berbeda2 antar madzhab, yang mereka saling menghormati istinbat masing-maisng-

Adapun ilmu hikmah yang di dapat dari buku2 murah pinggir jalan, yang TIDAK DIKETAHUI SANAD PENGARANGNYA, TIDAK DIKETAHUI ASAL USULNYA, DIJUAL TANPA TANGGUNG JAWAB bukanlah bentuk transfer ilmu tasawwuf yang benar.

Adapun ilmu hikmah yang DIJUAL dengan harga ISTIMEWA, menjanjikan KEKUATAN LUAR BIASA, MENDAPATKAN PANGKAT JABATAN DENGAN MUDAH, MELARISKAN DAGANGAN, MELULUHKAN HATI PUJAAN, dll BUKANLAH TASAWWUF.

Tasawwuf bukanlah ilmu melancarkan usaha keduniaan, bahkan sebaliknya, ilmu ini MENUNTUT PENGAMALNYA untuk susah payah, berat menderita, dalam usahanya menggapai cinta Allah dan makrifat kepadanya, bukan selain-Nya. Alhasil, hendaknya seseorang dengan hati terbuka memahami ISI, BUKAN SAMPUL TASAWWUF.

Nb. ILMU LADUNNI BANYAK DISELEWENGKAN ARTI DAN KEDUDUKANNYA DALAM ILMU METAFISIK. HENDAKNYA SESEORANG RELA DENGAN PEMBERIAN ALLAH SEMATA, DAN TIDAK MENGHARAP KESAKTIAN / KERAMAT / KEDIGDAYAAN YANG JUSTRU DAPAT MELEMPARKAN DIA KE JURANG KENISTAAN DI HADAPAN ALLAH. Cukuplah kiranya, ilmu syari'at, tasawwuf menjadi bekal para pencari Tuhan.

Wallahu a'lamu bis-showaab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar